Senin , 30 November 2020
Breaking News
Beranda / Berita / International / Bolivia buka sekolah militer anti imperialisme

Bolivia buka sekolah militer anti imperialisme

Presiden Bolivia Evo Morales membuka akademi pertahanan militer baru, yang katanya akan memberikan program untuk melawan pengaruh Amerika Serikat di negara berkembang.

Morales mengatakan tujuannya termasuk penelitian imperialisme dan konsekuensinya.

Dia mengatakan akademi itu diarahkan untuk menandingi Sekolah Angkatan Darat di Georgia, Army School of the Americas yang melatih sekutu AS selama Perang Dingin.

Beberapa lulusan sekolah itu melakukan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah tersebut.

Akademi baru ini berpusat di kota Santa Cruz di Bolivia timur dan awalnya akan mengambil 100 siswa.

Berbicara pada upacara pembukaan, Menteri Pertahanan Bolivia Reymi Ferreira mengatakan: “Sekolah Anti-Imperialisme adalah sekolah yang berusaha untuk menjaga kehidupan, tidak seperti School of the Americas, yang mencuci otak perwira militer menjadi percaya bahwa musuh mereka adalah rakyat kita.”

Sejak pelantikannya pada tahun 2005, hubungan Presiden Morales dengan AS kerap berada dalam ketegangan.

Pada tahun 2008 ia mengusir duta besar AS dan agen kontra-narkotika dan baru-baru ia menuduh menuduh Washington mendorong ‘kudeta kongres’ di Brasil dengan sidang pemakzulan Presiden Dilma Rousseff.

Dia juga menuduh AS mempromosikan terorisme global melalui intervensi militer, dan menyebut bahwa bangkitnya kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS sebagai contoh.

Di Amerika Latin, sejumlah perwira dilatih di School of Americas melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang sangat buruk di wilayah tersebut.

Antara lain dua perwira militer Argentina yang memimpin junta di akhir 1970-an. Organisasi hak asasi manusia mengatakan pemerintah militer Argentina menewaskan sekitar 30.000 lawan sayap kiri selama pemerintahan mereka.

Mantan Presiden Guatemala, General Efraim Rios Montt, juga dilatih di Sekolah Amerika di tahun 1950-an.

Dua badan Komisi Kebenaran mencatat brbagai pelanggaran hak asasi manusia secara luas oleh rezimnya, meliputi perkosaan, penyiksaan, eksekusi dan tindakan genosida terhadap rakyat, termasuk penduduk asli melalui suatu kampanye bumi hangus.

Pada tahun 2000, akademi di Fort Benning, Georgia itu, berganti nama menjadiWestern Hemisphere Institute for Security Cooperation.

loading...

Lihat Juga

Audit Bp Kawasan Batam

Kami dari Komite Eksekutif Badan Penelitian Aset Negara Aliansi Indonesia DPC Kota Batam Propinsi Kepulauan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *