Jumat , 4 Desember 2020
Breaking News
Beranda / Berita Lokal / Lingga dan karimun / Pembalakan di Gunung Muncung, Sumber Air Bersih Lingga Terancam

Pembalakan di Gunung Muncung, Sumber Air Bersih Lingga Terancam

Anggota Dewan Kabupaten Lingga dari Komisi I, Ahmad Nasirudin mendesak PDAM Kabupaten Lingga untuk membuat laporan pengaduan kepada kepolisian serta Bupati Lingga terkait pembalakan liar di hutan lindung Gunung Muncung yang telah berlangsung lama. Pembalakan ini merusak pasokan air bersih PDAM kepada masyarakat.

“Kami minta secepatnya PDAM melaporkan hal itu kepada kepolisian. Apalagi di sana menjadi lokasi sumber air bersih yang digunakan PDAM untuk warga Dabo Singkep,” kata pria yang akrab disapa Udin ini kepada koran Batam Pos, Jumat (22/9) pagi.

Akibat pembalakan liar itu, sambung Udin, setiap hujan turun air yang mengalir dari Gunung Muncung menjadi keruh membawa lumpur dan berwarna cokelat. Karenanya, setiap hujan PDAM juga turut menghentikan pasokan air bersih kepada masyarakat khususnya Dabo Singkep.

Udin menuturkan, jika aktifitas pembalakan di hutan Gunung Muncung terus dibiarkan tentunya akan berakibat fatal bagi kelangsungan ketersediaan air bersih bagi warga Dabo Singkep. Tentu saja daerah resapan air semakin menipis serta dapat menimbulkan kerusakan alam yang lebih luas.

“Karena aktifitas itu tentu ke depan akan timbul bencana alam. Salah satunya longsor karena tidak ada lagi pohon sebagai penopang tanah,” kata Udin.

Udin juga menyadari jika aktifitas pembalakan liar di Gunung Muncung menjadi salah satu sumber pemdapatan masyarakat. Namun dia meminta kepada masyarakat untuk tidak menebas hutan yang kondisinya sebagai penyedia sumber air bagi masyarakat banyak.

Menurut informasi yang didapat Udin, PDAM telah menyampaikan hal ini kepada bagian Ekbang Kabupaten Lingga yang membawahi perusahaan air minum tersebut. Namun belum ada tindakan nyata yang dilakukan mereka untuk menghentikan aktifitas pembalakan tersebut.

Untuk itu Udin mengharapkan ketegasan penegak hukum agar dapat bertindak sesuai aturan yang ada, segera menghentikan aktifitas yang sangat merugikan masyarakat luas tersebut. Bahkan menurutnya aktifitas itu menghancurkan sumber daya alam yang nantinya bakal diwariskan sampai anak cucu selanjutnya.

loading...

Lihat Juga

BC Gagalkan Penyelundupan Ribuan Batang Kayu Teki ke Malaysia

Kapal patroli BC 9004 dari Kanwil Khsusus Direktorat Jenderal bea dan Cukai (DJBC) Kepri di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *